Selasa, 10 Juli 2012
Ahzab beerkata benar Menundukkan kepala bagi wanita saat berbicara
32. Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk[1213] dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya[1214] dan ucapkanlah perkataan yang baik,
[1213]. Yang dimaksud dengan tunduk di sini ialah berbicara dengan sikap yang menimbulkan keberanian orang bertindak yang tidak baik terhadap mereka.
[1214]. Yang dimaksud dengan dalam hati mereka ada penyakit ialah: orang yang mempunyai niat berbuat serong dengan wanita, seperti melakukan zina.
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 33
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا (33)
Pada ayat ini Allah memerintahkan supaya para istri Nabi tetap berdiam di rumah mereka masing-masing dan jangan ke luar kecuali bila ada keperluan. Perintah ini berlaku terhadap istri-istri Nabi saw dan ummul mukminat lainnya. Mereka dilarang memamerkan perhiasannya, dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu sebelum zaman Nabi Muhammad saw. Perhiasan dan kecantikan seorang istri itu adalah untuk suaminya dan bukan untuk dipamerkan kepada orang lain. Segala perbuatan yang menjurus ke arah perzinaan atau mendekatkan kepadanya dilarang keras oleh agama Islam sesuai dengan firman Allah:
ولا تقربوا الزنى إنه كان فاحشة وساء سبيلا
Artinya:
Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (Q.S. Al Isra': 32)
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Masud Nabi saw bersabda:
إن المرأة عورة فإذا خرجت من بيتها استشرفها الشيطان وأقرب ما تكون من رحمة ربها وهي في قعر بيتها.
Artinya:
Sesungguhnya wanita itu adalah aurat. Jika ia keluar dari rumahnya, maka dia diincar-incar oleh setan, dan ia paling dekat dengan rahmat Allah, jika ia berada di rumahnya.
Setelah mereka dilarang mengerjakan keburukan, mereka diperintahkan mengerjakan kebaikan. yaitu supaya mereka mendirikan salat yang lima waktu sesuai dengan ketentuan syarat dan rukun-rukunnya dan menunaikan zakat harta bendanya. Dan telah menjadi kebiasaan, jika disebut salat maka juga selalu digandengkan dengan zakat, sebab keduanya menghasilkan kebersihan diri dan harta. Hikmah dari keduanya supaya tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya karena hal itu adalah pelaksanaan dari isi dua kalimat syahadat yang menjadi jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Kemudian Allah SWT menerangkan sebab dikeluarkannya perintah itu, ialah karena Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa-dosa dari mereka disertai panggilan: "Hai ahlul bait, yaitu semua keluarga rumah tangga Rasulullah, dan karena Allah bermaksud akan membersihkan mereka dari kekotoran kefasikan dan kemunafikan yang biasa menempel kepada orang yang berdosa. Maka Allah SWT akan membersihkan mereka sebersih-bersihnya. Dan Abdullah bin Abbas dalam rangka menerangkan siapa yang dimaksud dengan ahlul bait dalam ayat ini meriwayatkan demikian dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu `Abbas "Kami menyaksikan Rasulullah saw selama sembilan bulan, beliau datang ke rumah Ali bin Abu Talib pada tiap waktu salat, beliau mengucapkan Assalamu'alaikum wr. wb. "Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya". Salat itu adalah lima kali dalam sehari", semoga Allah memberi rahmat kepadamu.
Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Ahzab 33
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا (33)
(Dan hendaklah kalian tetap) dapat dibaca Qirna dan Qarna (di rumah kalian) lafal Qarna pada asalnya adalah Aqrarna atau Aqrirna, yang diambil dari kata Qararta atau Qarirta. Kemudian harakat Ra dipindahkan kepada Qaf, selanjutnya huruf Ra dan hamzah Washalnya dibuang sehingga jadilah, Qarna atau Qirna (dan janganlah kalian berhias) asalnya berbunyi Tatabarrajna kemudian salah satu huruf Ta dibuang sehingga jadilah Tabarrajna (sebagaimana orang-orang jahiliah yang dahulu) sebagaimana berhiasnya orang-orang sebelum Islam, yaitu kaum wanita selalu menampakkan kecantikan mereka kepada kaum lelaki. Adapun yang diperbolehkan oleh Islam adalah sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya, "..dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa tampak daripadanya." (Q.S. An-Nur, 31). (dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian) yakni dosa-dosa, hai (ahlul bait) yakni istri-istri Nabi saw. (dan membersihkan kalian) daripada dosa-dosa itu (sebersih-bersihnya.)
“Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan segala jenis kekotoran darimu wahai Ahlul bayt dan mensucikanmu sesuci-sucinya.”
Berdasarkan riwayat dari Aisyah, Ummu Salamah, Abu Sa’id Al-Khudri dan Anas bin Malik, ayat ini turun hanya untuk lima orang, yaitu Rasulullah SAWW, Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein as
Rasulullah SAWW bersabda seraya menunjuk kepada Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein as: “Ya Allah, mereka ini adalah Ahlul Baytku, maka peliharalah mereka dari keraguan dan sucikan mereka sesuci-sucinya.”
Banyak hadis lain yang seperti dengan hadis tersebut.
Silahkan rujuk:
Shahih Muslim, kitab Fadhā`ius Shahābah, bab Fadhā`il Ahli Baytin Nabi SAWW, juz 2, hal. 368, cetakan Isa Al-Halabi; juz 15 hal. 194, Syarah An-Nawawi, cetakan Mesir.
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 35
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (35)
Pada ayat ini Allah SWT menjelaskan sifat-sifat hamba-Nya yang akan diampuni segala dosanya dan kesalahannya dan dimasukkan ke dalam surga. Sifat-sifat mereka itu adalah sepuluh macam:
1. Taat dan tunduk kepada hukum agama Islam, baik dalam ucapan maupun dalam perbuatan.
2. Membenarkan dan mempercayai ajaran Allah dan Rasul-Nya.
3. Selalu melaksanakan perintah-perintah agama dengan penuh kekhusyukan dan ketenangan.
4. Selalu benar dalam ucapan dan perbuatan, hal mana menjadi tanda keimanan yang sempurna, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadis yang sahih, bahwa Rasulullah saw bersabda "Peganglah kebenaran, bahwa kebenaran itu membawa kebaikan, dan kebaikan akan membawa surga, dan jauhilah dusta, sebab dusta itu membawa kedurhakaan dan kedurhakaan itu membawa ke neraka.
5. Sabar dalam menghadapi kesulitan dan penderitaan dalam melaksanakan perintah Allah dan menahan syahwat dan hawa nafsu.
6. Khusyuk dan tawadu kepada Allah baik jasmani maupun rohani dalam melaksanakan semua tugas dan kewajiban dan keikhlasan semata-mata untuk mencari keridaan Allah SWT.
7. Bersedekah dengan harta dan memberi bantuan kepada mereka yang serba kekurangan dan tidak mempunyai penghasilan.
8. Berpuasa yang dapat membantu menundukkan syahwat hawa nafsu sebagaimana tercantum di dalam hadis, sabda Rasulullah saw: "Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kamu yang mampu untuk kawin silahkan kawin, karena perkawinan itu lebih dapat menahan pandangan mata dan lebih memelihara kemaluan, dan barangsiapa yang belum mampu, supaya berpuasa, karena berpuasa itu dapat membendung syahwatnya".
9. Menjaga kemaluan dari segala perbuatan yang haram dan keji, sesuai dengan firman Allah:
والذين هم لفروجهم حافظون إلا على أزواجهم أو ما ملكت أيمانهم فإنهم غير ملومين فمن ابتغى وراء ذلك فأولئك هم العادون
Artinya:
Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Q.S. Al Mu'minun: 5-7)
10. Selalu ingat kepada Allah dengan lidah dan hati dan sesuai dengan hadis yang diriwayatkan dari Mujahid yang menyatakan, bahwa seorang itu belum dinamakan orang yang banyak mengingati Allah kecuali bila sudah dapat mengingat-Nya sambil berdiri, duduk dan berbaring. Abu Said Al-Khudri telah meriwayatkan sebuah hadis, sabda Rasulullah saw:
إذا أيقظ الرجل امرأته من الليل فصليا ركعتين كان تلك الليلة من الذاكرين الله كثيرا وذاكراته.
Artinya:
Apabila seorang suami membangunkan seorang istrinya di malam hari lalu mereka salat tahajud. maka mereka berdua pada malam tersebut termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah.
Dalam hadis yang lain dari Sahal bin Muaz Al Juhani dari ayahnya diriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw:
أي المجاهدين أعظم أجرا يا رسول الله? قال صلى الله عليه وسلم: أكثرهم لله عز وجل ذكرا. قال: أي الصائمين أكثر أجرا? قال صلى الله عليه وسلم: أكثرهم لله عز وجل ذكرا ثم ذكر الصلاة والزكاة والحج والصدقة, كل ذلك يقول رسول الله صلى الله عليه وسلم أكثرهم ذكرا. فقال أبو بكر لعمر رضي الله عنه: ذهب الذاكرون بكل خير, فقال صلى الله عليه وسلم: أجل.
Artinya:
Pejuang-pejuang manakah yang paling besar pahalanya wahai Rasulullah? Nabi saw menjawab: "Yang paling banyak ingatnya kepada Allah. Lalu ia bertanya lagi: Cara orang yang berpuasa manakah yang paling besar pahalanya? Nabi saw menjawab: "Yang paling banyak ingat kepada Allah. Kemudian dia menyebutkan pula orang yang salat, berzakat, naik haji dan bersedekah, dan pada kesemuanya itu Nabi saw mengatakan: Mereka yang paling banyak ingatnya kepada Allah, sehingga Abu Bakar berkata kepada Umar: "Orang yang banyak ingatnya kepada Allah telah membawa semua kebaikan. Dan Nabi saw menambahkan: "Memang demikianlah.
Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Ahzab 35
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (35)
(Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya) (laki-laki dan perempuan yang benar) dalam keimanannya (laki-laki dan perempuan yang sabar) di dalam menjalankan ketaatan (laki-laki yang khusyuk) yang merendahkan diri (dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya) dari hal-hal yang diharamkan (laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan) dari perbuatan-perbuatan maksiat yang pernah mereka lakukan (dan pahala yang besar) bagi amal ketaatan mereka.
Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Ahzab 35
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (35)
Imam Thabrani mengetengahkan sebuah hadis dengan sanad yang sahih melalui Qatadah yang menceritakan behwa Nabi saw. meminang Siti Zainab dengan maksud untuk dikawinkan kepada Zaid (anak angkatnya), sedangkan Zainab menduga bahwa Nabi saw. melamarnya untuk dirinya sendiri. Akan tetapi setelah Zainab mengetahui bahwa Nabi saw. melamarnya untuk dikawinkan kepada Zaid, maka ia menolak lamaran itu. Lalu Allah swt. menurunkan firman-Nya, "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin..." (Q.S. Al Ahzab, 36). Akhirnya Zainab rela dan mau menerima lamarannya. Ibnu Jarir mengetengahkan sebuah hadis melalui Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan bahwa RasululIah saw. melamar Zainab binti Jahsy untuk dikawinkan kepada Zaid ibnu Haritsah, akan tetapi Zainab tidak mau menerima lamarannya itu, seraya mengatakan, "Aku lebih baik nasabnya daripada dia (Zaid ibnu Haritsah)". Maka Allah menurunkan firman-Nya, "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin..." (Q.S. Al Ahzab, 36). Ibnu Jarir mengetengahkan pula hadis yang serupa melalui jalur Al Aufi yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a. Ibnu Abu Hatim mengetengahkan pula hadis yang bersumber dari Ibnu Zaid, bahwasanya ayat ini diturunkan berkenaan dengan Umu Kaltsum binti Uqbah ibnu Abu Mu'ith; dia adalah wanita pertama yang ikut hijrah. Kemudian ia menyerahkan dirinya untuk dinikahi oleh Nabi saw., maka Nabi saw. mengawinkannya dengan Zaid Ibnu Haritsah. Akhirnya dia dan saudara lelakinya marah-marah seraya mengatakan, "Sesungguhnya kami menghendaki untuk dikawin oleh Rasulullah saw. sendiri, tetapi Rasulullah mengawinkan aku dengan hamba-Nya". Kemudian turunlah ayat ini.
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 48
وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ وَدَعْ أَذَاهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا (48)
Pada ayat ini Allah menjelaskan tentang apa-apa yang dapat menimbulkan kemudaratan. Allah melarang orang-orang yang beriman untuk menuruti orang-orang yang kafir dan orang-orang yang munafik. Dan janganlah menghiraukan gangguan mereka terhadap berlangsungnya dakwah kepada jalan Allah, dan hadapilah mereka dengan penuh kesabaran dan tawakal karena Dialah yang harus dipandang cukup sebagai pelindung di dalam melaksanakan tugas berdakwah guna semaraknya syiar Islam.
Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Ahzab 48
وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ وَدَعْ أَذَاهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا (48)
(Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang-orang munafik itu) dalam hal-hal yang bertentangan dengan syariatmu (dan janganlah kamu hiraukan) artinya biarkanlah (gangguan mereka) janganlah kamu mengadakan pembalasan terhadap mereka, sampai dengan adanya perintah tentang apa yang harus kamu lakukan terhadap mereka (dan bertawakallah kepada Allah) Dialah Yang mencukupimu. (Dan cukuplah Allah sebagai Pelindung) maksudnya, serahkanlah semua urusanmu kepada-Nya.
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 53
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا (53)
Pada ayat ini Allah mengajarkan suatu tata cara kesopanan di dalam etika pergaulan dalam menghadapi rumah tangga Nabi saw. Allah melarang orang-orang yang beriman untuk memasuki rumah-rumah Nabi saw kecuali dengan izin beliau, untuk makan di rumahnya tanpa menunggu-nunggu waktu masak makannya. Pada masa Rasulullah saw pernah terjadi ada orang-orang yang menunggu-nunggu waktu makan Rasulullah saw. Lalu turun ayat ini melarang masuk rumah Rasulullah saw sambil menunggu-nunggu waktu makan Rasulullah saw. Bilamana Rasulullah saw mengundang beberapa orang sahabat ke rumahnya untuk menghadiri walimah, maka mereka dilarang untuk memasuki rumah Nabi saw kecuali bila mereka sudah mengetahui bahwa makanannya sudah siap dihidangkan.
Bila hidangan belum siap dan mereka masih sibuk menyiapkan hidangan maka masuknya tamu itu akan mengganggu ketenangan keluarga Nabi saw, dan karena bilamana istri Nabi saw sedang bekerja akan terlihat sebagian anggota tubuhnya yang tidak boleh terlihat oleh para tamu. Akan tetapi, jika tamu itu diundang mereka dipersilahkan masuk dan apabila mereka telah selesai makan supaya segera keluar tanpa asyik memperpanjang percakapan, karena yang demikian itu benar-benar mengganggu Nabi saw, tetapi beliau sendiri merasa malu untuk menyuruh tamu keluar, tetapi Allah tidak segan untuk menerangkan yang benar. Allah SWT mengajarkan kesopanan di dalam permulaan rumah tangga supaya diperhatikan oleh seluruh tamu-tamu yang berkunjung ke rumah orang. Dan bilamana ada kepentingan untuk meminta sesuatu atau meminjam sesuatu barang ke rumah istri-istri Nabi saw, maka hendaklah permintaan itu dilakukan dari belakang tabir dan tidak boleh berhadapan secara langsung, karena yang demikian itu lebih menyucikan hati kedua belah pihak. Dan tidak pula menyakiti hati Rasulullah saw. Dan termasuk perbuatan yang menyakiti hati Rasulullah saw ialah menikahi istri-istrinya setelah Nabi meninggal dunia. Larangan untuk menikahi bekas istri-istri Nabi saw, adalah larangan yang berlaku untuk selama-lamanya karena perbuatan itu amat besar dosanya di sisi Allah. Imam Bukhari r.a meriwayatkan dari Anas r.a bahwa umar bin Khatab pernah berkata: "Ada tiga pendapatku yang sesuai dengan wahyu yang diturunkan oleh Allah Taala. Aku berkata kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah; alangkah baiknya bila engkau menjadikan makam Ibrahim as tempat salat, lalu Allah menurunkan ayat:
واتخذوا من مقام إبراهيم مصلى
Artinya:
Dan jadikanlah sebagian makam Ibrahim tempat salat. (Q.S. Al Baqarah: 125)
Yang kedua saya berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya istri-istrimu sering didatangi tamu orang baik dan orang jahat, seandainya paduka membuat tabir untuk mereka tentu lebih baik, maka Allah menurunkan ayat hijab ini. Ketiga saya pernah berkata kepada istri-istri Nabi ketika mereka berselisih karena rasa cemburu terhadap Nabi, maka turunlah ayat ini:
عسى ربه إن طلقكن أن يبدله أزواجا خيرا منكن
Artinya:
Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik dari pada kamu. (Q.S. At Tahrim: 5)
Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Ahzab 53
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا (53)
(Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kalian diizinkan) memasukinya karena mendapat undangan (untuk makan) kemudian kalian boleh memasukinya (dengan tidak menunggu-nunggu) tanpa menunggu lagi (waktu masak makanannya) yakni sampai makanan masak terlebih dahulu; Inaa berakar dari kata Anaa Ya-niy (tetapi jika kalian diundang maka masuklah dan bila kalian selesai makan, keluarlah kalian tanpa) berdiam lagi (asyik memperpanjang percakapan) sebagian dari kalian kepada sebagian yang lain. (Sesungguhnya yang demikian itu) yakni berdiamnya kalian sesudah makan (akan mengganggu nabi lalu nabi malu kepada kalian) untuk menyuruh kalian keluar (dan Allah tidak malu menerangkan yang hak) yakni menerangkan supaya kalian keluar; atau dengan kata lain Dia tidak akan mengabaikan penjelasannya. Menurut qiraat yang lain lafal Yastahyi dibaca dengan hanya memakai satu huruf Ya sehingga bacaannya menjadi Yastahiy. (Apabila kalian meminta sesuatu kepada mereka) kepada istri-istri Nabi saw. (yakni suatu keperluan, maka mintalah dari belakang tabir) dari belakang hijab. (Cara yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka) dari perasaan-perasaan yang mencurigakan. (Dan tidak boleh kalian menyakiti hati Rasulullah) dengan sesuatu perbuatan apa pun (dan tidak pula mengawini istri-istrinya sesudah ia wafat selama-lamanya. Sesungguhnya perbuatan itu di sisi Allah) dosanya (besar).
Asbabun nuzul ayat (dari HR Muslim): Dari Anas ra, (hadist ini diriwayatkan pula oleh Bahzi ra.) katanya :” Ketika iddah Zainab (bekas isteri Zaid) telah habis, maka bersabda Rasulullah saw. kepada Zaid (anak angkat Nabi saw.), “Hai Zaid! Pergilah engkau melamar Zainab untukku!” Maka pergilah Zaid menemui Zainab; didapatinya zainab sedang mengaduk adonan kue. Kata Zaid, “Ketika aku melihat zainab, hatiku berdebar, sehingga tak kausalah aku rasanya hendak melihatnya, untuk menyampaikanpesanRasulullasaw.kepadanya.Oleh karena itu kubelakani dia sambil mundur dan berkata kepadanya, “Ya, Zainab! Aku diutus Rasulullah saw. melamarmu untukbeliau. Bagaimana tanggapanmu ?” Jawab Zainab, “Aku belum dapat membuat suatu putusan sebelum beroleh petunjuk dari Tuhanku,” Lalu dia pergi ke tempatnya shalat, melakukan shalat istikharah. Sementara itu Qur’an turun kepada Rasulullah saw. (memerintahkan beliau supaya mengawini Zainab, surat Al Ahzab ayat 37). Kata Anas, “Aku masih ingat, ketika itu kami dijamu dengan roti dan daging. Ketika hari telah agak tinggi, apra tamu sudah banyak yang pulang, hanya tinggal beberapa orang bercakap-cakap dalam rumah sesudah makan. Rasulullah keluar menuju ker rumah para isterinya yang lain dan aku mengikuti beliau dari belakang. Beliau memberi salam kepada mereka dan mereka menjawab salam beliau sambil bertanya, “Bagaiman halnya isteri baru anda?” Kata Anas, “Aku tidak ingat, apakah aku yang mengabarkan kepada Nabi saw., atau barangkali beliau yang memberitahukan kepadaku, bahwa tamu-tamu telah pulang semuanya. Maka Rasulullah saw pulang kembali kerumah Zainab, dan aku masuk pula bersama beliau. Sampai dirumah, beliau tutupkan tirai antaraku dengan beliau. Maka turun ayat hijab memberi pelajaran kepada kaum muslimin. Ibnu Rafi’ menambahkand alam hadistnya : “Janganlah kamu masuk kerumah Nabi, kecuali bila kamu telah diizinkan masuk untuk makan, tanpa menunggu lama makanan terhidang ... (hingga firman-Nya) Allah tidak malu mengatakan yang benar.” (Al Ahzab:53)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 58
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا (58)
Orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, dan hanya berdasarkan kepada fitnah dan tuduhan yang dibuat-buat, maka sungguh mereka itu telah memikul kedustaan dan dosa yang nyata sekali. Menurut Abdullah bin Abbas r.a ayat ini diturunkan sehubungan dengan tuduhan Abdullah bin Ubay terhadap Siti 'aisyah yang dituduhkan berbuat krisis moral dalam perjalanan pulang beserta Nabi Muhammad saw setelah memerangi Bani Mustaliq, yang terkenal dengan hadisul ifki. Dan menurut Abu Hurairah Rasulullah saw pernah ditanya tentang apa artinya bergunjing. Beliau menjawab: "Engkau menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya". Nabi ditanya lagi: "Bagaimana jika yang disebut itu memang benar terdapat suatu kenyataan?". Nabi menjawab: "Bila yang diucapkan itu benar engkau telah mengumpat kepadanya, dan bila itu tidak benar maka engkau telah membuat kedustaan terhadapnya". Dan menurut riwayat `Aisyah r.a bahwa Nabi saw pernah ditanya: "Riba manakah yang paling berat di sisi Allah, beliau bersabda menghalalkan kehormatan seorang manusia, lalu Nabi membacakan ayat ini.
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 59
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (59)
Allah memerintahkan Nabi Nya supaya seluruh kaum muslimat terutama istri-istri Nabi sendiri dan putri-putrinya agar mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Jilbab itu ialah sejenis baju kurung yang lapang, yang dapat menutup kepala, muka dan dada. Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenal dengan pakaiannya, karena pakaiannya berbeda dengan jariyah-jariyah (budak-budak wanita), agar mereka tidak diganggu oleh orang-orang yang menyalahgunakan kesempatan. Seorang perempuan yang berpakaian rapi dan sopan akan lebih mudah terhindar dari gangguan orang-orang yang jahil, dan perempuan-perempuan yang membuka auratnya di muka umum mudah dituduh atau dinilai sebagai wanita yang kurang baik kepribadiannya. Dan bagi orang di masa lampau yang kurang hati-hati tentang menutupi auratnya, lalu mengadakan perbaikan, maka Allah Maha Pengampun lagi Maha Pengasih. Oleh karena perbuatan yang menyakiti itu sering kali dilakukan oleh orang-orang munafik; maka pada ayat berikut ini Allah mengancam mereka dengan ancaman yang keras sekali.
Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Ahzab 59
إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا (57)
Imam Bukhari mengetengahkan sebuah hadis yang bersumber dari Siti Aisyah r.a. yang menceritakan bahwa Siti Saudah setelah ayat hijab diturunkan, pergi keluar untuk suatu keperluan, ia adalah seorang wanita yang bertubuh besar sehingga pasti di kenal oleh orang yang telah mengetahuinya. Kemudian Umar melihatnya, lalu berkata, "Hai Saudah! Ingatlah demi Allah, kamu tidaklah samar bagi kami (sekalipun kamu sudah memakai hijab), maka dalam keadaan bagaimana pun kamu keluar (aku tetap mengenalimu)" Selanjutnya Siti Aisyah r.a. meneruskan ceritanya, setelah itu Siti Saudah kembali. Sedangkan Rasulullah saw. pada waktu itu sedang berada di rumahku, beliau sedang menyantap makan malam, di tangannya terdapat keringat. Lalu Saudah masuk dan berkata kepada Rasulullah saw., "Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku telah keluar untuk suatu keperluan, (di tengah jalan) Umar mengatakan demikian dan demikian kepadaku". Siti Aisyah kembali melanjutkan kisahnya, kemudian Allah menurunkan wahyu kepada Nabi saw. Setelah wahyu selesai, kulihat tangannya masih berkeringat dan beliau tidak mengusapnya. Lalu beliau berkata, "Sesungguhnya Allah telah memberi izin kepada kalian semua untuk keluar bila memang kalian mempunyai keperluan". Ibnu Saad di dalam kitab Thabaqat-nya mengetengahkan sebuah hadis melalui Abu Malik yang menceritakan bahwa istri-istri Nabi saw. selalu keluar di malam hari untuk sesuatu keperluan mereka. Segolongan orang-orang munafik menggoda mereka, sehingga membuat mereka sakit hati. Lalu mereka mengadukan hal tersebut kepada Nabi saw. Kemudian ditanyakan kepada orang-orang munafik, maka orang-orang munafik menjawab, "Sesungguhnya kami melakukan hal itu hanya dengan memakai isyarat (yakni bukan dengan perkataan)". Maka Allah swt. menurunkan firman-Nya, "Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka'. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu...' (Q.S. Al Ahzab, 59)." Selanjutnya Ibnu Saad mengetengahkan hadis yang sama, hanya kali ini ia mengetengahkannya melalui Hasan dan Muhammad ibnu Kaab Al Qurazhi
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 69
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَى فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا وَكَانَ عِنْدَ اللَّهِ وَجِيهًا (69)
Allah melarang kaum mukminin supaya jangan berlaku seperti segolongan Bani Israel yang menyakiti Musa as. Maka Allah membersihkan beliau dari tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan kepadanya, dan Musa itu seorang yang mempunyai kedudukan yang sangat terhormat di sisi Allah Taala. Di dalam ayat ini tidak disebutkan bagaimana caranya mereka menyakiti Nabi Musa itu. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Masud bahwa Rasulullah saw pada suatu hari membagi-bagikan harta ganimah kepada sahabatnya; lalu ada seorang laki-laki berkata bahwa: "Pembagian itu tidak dimaksud untuk mencapai keridaan Allah; karena dipandangnya tidak adil. Setelah Nabi saw mendengar ocehannya itu beliau tersinggung sampai merah wajahnya seraya berkata "Semoga Allah memberi rahmat kepada Musa yang sudah disakiti orang lebih dari ini tetapi beliau tetap berlaku sabar.
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 70
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70)
Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman supaya tetap bertakwa kepada Allah dan selalu mengucapkan kata-kata yang benar.
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 71
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (71)
Bila mereka tetap memelihara keimanan dan ketakwaan dan selalu mengatakan kebenaran, maka pasti Allah akan memperbaiki amal-amal mereka dan mengampuni dosa-dosa mereka. Siapa yang menginginkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, maka jalan yang harus ditempuh hanyalah satu ialah dengan menaati Allah dan Rasul Nya; dan dengan demikian mereka akan mendapatkan kemenangan dan kebahagiaan yang besar.
Saba infaq
39. Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)." Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.
35. Faathir infaq
HANYA ORANG-ORANG YANG MEMAHAMI KITAB ALLAH, MENDIRIKAN SHALAT DAN BERNAFKAH DI JALAH ALLAH ITULAH YANG MENGHARAP PAHALA YANG KEKAL
29. Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,
Fatir berbicara
10. Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik[1249] dan amal yang saleh dinaikkan-Nya[1250]. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur.
[1249]. Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa perkataan yang baik itu ialah Kalimat Tauhid yaitu Laa ilaa ha illallaah; dan ada pula yang mengatakan zikir kepada Allah dan ada pula yang mengatakan semua perkataan yang baik yang diucapkan karena Allah.
[1250]. Maksudnya ialah bahwa perkataan baik dan amal yang baik itu dinaikkan untuk diterima dan diberi-Nya pahala.
Langganan:
Postingan (Atom)